Sabtu, 13 Juli 2013

Flashback, But just Memories



      “Terpanah pada daun yang mulai menguning berserakan disana sini. bangku-bangku taman yang tlah tua menyisahkan banyak kisah cinta. Terlihat jalan setapak yang mulai tak beraturan kemana arah jalannya. Terasa hembusan angin semilir yang datang membawa kedamaian jiwa menerpa raga untuk sesaat.  Kelopak mata tertutup seraya mengiringi keheningan yang tercipta. Terbayang masa lalu yang terpatri dalam lubuk hati. Pesona cinta yang mulai menjajah hati kembali, membuka luka lama untuk sekedar menyapanya.” 

      Hati kini mulai berkisah, betapa ku bahagia dalam peluk cinta yang bertabur keindahan fana. Sebongkah kayu berukir berwarna putih itu telah menjadi bukti. Dan guguran daun yang menguning menjadi satu saksi lukisan perih di hati, bertutur kisah lama yang menjuntai keluar untuk sesaat….
          Tergambar begitu jelas cerita cinta yang tlah lama bersarang dalam hati. meski bukan kebahagian yang abadi, namun tak sekalipun jiwa berniat untuk membuangnya. Membencinya sama artinya  membenci diriku yang bodoh, bodoh sebodohnya. Tak layak menyimpan rasa yang tersisah pada dia yang tercinta dahulu. Memang luka yang membekas tak akan pernah hilang, namun ketulusan hati selalu mencoba untuk mengobatinya….

          Tersadar dalam tidur yang panjang, hasratku melangkah tuk menjamah bangku-bangku tua kan berserakan guguran daun. Di iringi dengan deruan angin kecil bercahayakan sinar sang mentari yang kini semakin menua. Terpanah akan keindahan taman yang indah dahulu, kini tlah rusak dan tak berpenghuni . Sunyi, sepi, hampa terasa kini. Apa mungkin sama halnya dengan hatiku?

          Terlalu lama ku pendam kisah ini, apa mungkin hati tlah mati untuk kisah yang baru? Nyaris tak tersisah cinta untuk mereka yang baru hadir. Bayangan semu masa lalu melucuti kebahagian yang seharusnya kudapatkan, ini kah yang disebut dengan cinta mati? Atau ini hanya ambisi tuk memilikinya?

Setulus hati ku serahkan kebahagianku pada jurang kehancuran, jurang yang menggelincirkanku bersama kebahagian lampau seraya mebunuh benih-benih kehidupan yang baru. Bagaimana aku bisa hidup dengan kenangan masa lalu yang tak kunjung pergi, bahkan diri tak sanggup untuk berhenti mencintai luka itu…..
      Setiap hari hanya ada bayangannya yang melekat di hati, bersembunyi di balik relung hati yang semakin tersembunyi. Memaksanya keluar pun rasanya sulit. Lantas apa yang harus di pilih jika pilihan yang ada hanya satu, yaitu membiarkan luka ini tetap tinggal di sini…..
Kehidupan tlah berjalan, namun aku masih tetap di atas luka hatiku, di belakang kebahagian dirinya. Mengorbankan begitu banyak waktu dan harapan berharga. Atas nama KETULUSAN, yang entah sampai kapan ketulusan itu akan berhenti menatap luka lama, lalu berusaha menyelamatkan raga dari penjara hati yang kian hari menyayat perih.

2 komentar: