“Terpanah pada daun yang mulai menguning berserakan disana sini.
bangku-bangku taman yang tlah tua menyisahkan banyak kisah cinta. Terlihat
jalan setapak yang mulai tak beraturan kemana arah jalannya. Terasa hembusan
angin semilir yang datang membawa kedamaian jiwa menerpa raga untuk sesaat. Kelopak mata tertutup seraya mengiringi
keheningan yang tercipta. Terbayang masa lalu yang terpatri dalam lubuk hati.
Pesona cinta yang mulai menjajah hati kembali, membuka luka lama untuk sekedar
menyapanya.”
Hati kini mulai
berkisah, betapa ku bahagia dalam peluk cinta yang bertabur keindahan fana.
Sebongkah kayu berukir berwarna putih itu telah menjadi bukti. Dan guguran daun
yang menguning menjadi satu saksi lukisan perih di hati, bertutur kisah lama
yang menjuntai keluar untuk sesaat….
Tergambar begitu jelas cerita cinta
yang tlah lama bersarang dalam hati. meski bukan kebahagian yang abadi, namun
tak sekalipun jiwa berniat untuk membuangnya. Membencinya sama artinya membenci diriku yang bodoh, bodoh sebodohnya.
Tak layak menyimpan rasa yang tersisah pada dia yang tercinta dahulu. Memang
luka yang membekas tak akan pernah hilang, namun ketulusan hati selalu mencoba
untuk mengobatinya….
Tersadar dalam tidur yang panjang,
hasratku melangkah tuk menjamah bangku-bangku tua kan berserakan guguran daun.
Di iringi dengan deruan angin kecil bercahayakan sinar sang mentari yang kini
semakin menua. Terpanah akan keindahan taman yang indah dahulu, kini tlah rusak
dan tak berpenghuni . Sunyi, sepi, hampa terasa kini. Apa mungkin sama halnya
dengan hatiku?
Setulus hati ku
serahkan kebahagianku pada jurang kehancuran, jurang yang menggelincirkanku
bersama kebahagian lampau seraya mebunuh benih-benih kehidupan yang baru.
Bagaimana aku bisa hidup dengan kenangan masa lalu yang tak kunjung pergi,
bahkan diri tak sanggup untuk berhenti mencintai luka itu…..
Setiap hari hanya ada bayangannya yang
melekat di hati, bersembunyi di balik relung hati yang semakin tersembunyi.
Memaksanya keluar pun rasanya sulit. Lantas apa yang harus di pilih jika
pilihan yang ada hanya satu, yaitu membiarkan luka ini tetap tinggal di sini…..
Kehidupan tlah
berjalan, namun aku masih tetap di atas luka hatiku, di belakang kebahagian
dirinya. Mengorbankan begitu banyak waktu dan harapan berharga. Atas nama
KETULUSAN, yang entah sampai kapan ketulusan itu akan berhenti menatap luka
lama, lalu berusaha menyelamatkan raga dari penjara hati yang kian hari
menyayat perih.
Seeep dek :D Follow blogku :3 http://rijalul.id-fb.com :v
BalasHapusApanya yang sip ? :/ udah :D
BalasHapus